Apa itu Staking Crypto dan Cara Kerjanya

Ada banyak jalan ke Roma, ada banyak cara juga untuk menghasilkan uang dari crypto. Selain trading, Anda juga bisa mendapatkan penghasilan dari memainkan faucet, game, dan tentu saja staking crypto. 

Staking adalah salah satu cara mendapatkan pendapatan dari crypto. Pelajari apa itu staking dan bagaimana cara mendapatkan penghasilan dari jalur ini dengan membaca artikel di bawah ini.

Apa itu Staking Crypto?

Staking crypto adalah kegiatan mengunci atau menyimpan aset crypto ke dalam dompet tertentu. Aset crypto yang disimpan ini kemudian digunakan untuk mengembangkan jaringan blockchain tersebut. 

Selama dikunci, aset crypto tersebut tidak bisa dipakai. Oleh sebab itu sebagai gantinya, orang yang menyimpan aset crypto ke dalam dompet ini diberi bunga. Jumlah bunga dari staking akan semakin besar seiring dengan semakin besarnya jumlah aset yang dikunci dan semakin lama trader mengunci aset tersebut.

Beberapa koin atau pengembang besar yang menyediakan layanan ini biasanya menerapkan bunga cukup rendah yaitu sekitar 6%-8% per tahun. Sebaliknya, koin yang belum memiliki nama cenderung untuk menawarkan tingkat bunga tinggi.

Pengguna staking crypto dapat terbagi menjadi dua peran yaitu sebagai delegator dan sebagai validator. Delegator adalah orang-orang yang mengunci asetnya saja dengan tanpa melakukan validasi smenetara validator adalah sebagian orang diantara delegator yang dipilih untuk memvalidasi transaksi.

Staking crypto ini sangat cocok untuk trader yang tidak memiliki waktu dan peralatan untuk mining atau trading. Hal ini karena staking crypto bisa dilakukan langsung melalui blockchain wallet seperti MetaMask atau TrustWallet dan tidak membutuhkan komputer kualitas tinggi yang biasanya dipakai untuk mining. Selain itu, staking juga bisa dilakukan melalui bursa crypto seperti crypto.com

Cara Kerja Staking Crypto

Cara kerja staking crypto mirip dengan deposito dimana investor “mengunci” uangnya di bank dalam jangka waktu tertentu dan meminta bank untuk mengalokasikannya kepada para kreditur. 

Bedanya, tidak semua aset crypto bisa untuk staking. Hanya koin crypto yang menggunakan sistem proof of stake (POS) seperti Cardano, Solana dan Algorand bisa untuk staking. Oleh sebab itu, langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah memiliki aset crypto ini dulu lalu menguncinya di crypto wallet tertentu.

Setelah Anda mengunci aset ini ke dalam server (node), protokol dari server tersebut akan memilih siapa orang yang akan menjadi seorang validator. Pemilihan validator bergantung pada banyak hal seperti, jumlah setoran aset validator tersebut dan kemampuan validator untuk mining koin.

Validator ini bertugas untuk memproses transaksi, memvalidasi transaksi, mining dan lain sebagainya. Apabila validator sukses melakukan tugasnya, maka Anda dan validator tersebut akan mendapatkan reward secara otomatis. 

Daftar Platform Crypto Yang Menyediakan Fitur Staking 

Staking bisa dilakukan melalui beberapa jenis platform seperti, langsung melalui perusahaan pengembang koin itu sendiri, melalui bursa crypto, melalui wallet, DeFI atau melalui staking pool. Berikut ini daftar platform crypto dengan fitur staking:

  1. Coinbase
  2. ChangeNow
  3. Binance
  4. eToro
  5. MyContainer
  6. StakingLab
  7. Kraken
  8. Stake.fish
  9. Figment Network
  10. Guarda Wallet
  11. Crypto.com
  12. Gemini
  13. Block.fi
  14. Trade Station
  15. Zipmex
  16. MetaMask
  17. TrustWallet

Cara Mendapatkan Passive Income dari Staking Crypto

1. Pilih koin terbaik

Cara pertama adalah dengan memilih koin terbaik. Dalam hal ini, Anda perlu mempertimbangkan beberapa hal seperti:

  1. Nilai koin tersebut. Hindari staking dengan koin yang memiliki nilai inflasi tinggi. Nilai inflasi tinggi bisa berarti Anda bisa mendapatkan keuntungan tinggi tapi dengan tingkat volatilitas  tinggi pula. 
  2. Fixed supply. Hal kedua yang harus Anda perhatikan adalah jumlah penawaran terhadap koin tersebut. Penawaran yang terbatas atau bahkan tetap akan menghasilkan harga yang relatif terus naik dan tingkat permintaan yang tinggi pula.
  3. Untuk apa koin tersebut digunakan. Faktor ketiga yang patut Anda pertimbangkan adalah untuk apa koin tersebut digunakan di dunia nyata. Semakin sering koin tersebut dipakai untuk hal-hal seperti, pembayaran digital, game dan lain sebagainya, maka semakin besar kemungkinan koin tersebut akan memperoleh tingkat permintaan yang sehat. 
  4. Kebijakan dari pengembang koin. Hal terakhir untuk Anda pertimbangkan adalah kebijakan dari pengembang koin mengenai kegiatan staking di koin tersebut. Beberapa pengembang mensyaratkan kepemilikan minimum dan penurunan jumlah bunga seiring dengan peningkatan jumlah koin yang dimasukkan untuk staking. 

Baca Juga: 15 Peringkat Cryptocurrency Terbaik Yang Akan Booming 2022

2. Pilih platform staking terbaik

Seperti yang telah tertulis di atas, ada banyak jenis platform yang menawarkan layanan staking ini. Oleh karena itu, Anda harus memilih platform staking crypto terbaik menurut Anda. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan saat memilih platform untuk staking adalah:

  1. Riwayat clash. Jaringan adalah salah satu faktor utama untuk mendulang keuntungan dari crypto. Maka, pastikan Anda memilih platform yang jaringannya jarang mengalami clash.
  2. Biaya transaksi. Banyak perusahaan dengan layanan staking yang menerapkan biaya dengan rasio tertentu. Pilih platform dengan biaya yang sesuai dengan anggaran Anda. 
  3. Koin yang tersedia. Tidak semua koin bersistem POS ditawarkan di sebuah platform staking. Silahkan pilih platform staking yang menyediakan staking untuk koin yang Anda inginkan. 
  4. Kebijakan. Platform staking tentunya memiliki syarat dan ketentuan yang berbeda untuk melakukan staking di aplikasi tersebut. 

Risiko Staking Crypto

Selain menawarkan keuntungan yang lumayan, namun staking crypto juga memiliki risiko. Berikut ini beberapa risiko dari transaksi ini:

1. Platform terkena peretasan atau down

Risiko yang pertama adalah platform staking terkena peretasan atau down. Oleh sebab itu, pastikan Anda memilih platform dengan riwayat peretasan dan clash yang rendah. Pilih juga platform yang memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Hal ini penting sebab, hingga kini di Indonesia tidak ada penjaminan atau asuransi terhadap aset crypto yang hilang. Jadi, kalau aset Anda hilang karena kurangnya keamanan aplikasi, yang bisa Anda lakukan hanya melihatnya menguap.

Baca Juga: 10 Exchange Crypto Terbaik & Terpercaya Indonesia Untuk Ttrading(Daftar Terbaru)

2. Harga aset yang turun

Cryptocurrency dikenal sebagai instrumen trading yang memiliki tingkat volatilitas tinggi sehingga penurunan harga aset sebenarnya bukan hal yang asing. Tapi, hal ini tentu akan berbahaya jika Anda sedang melakukan staking crypto. Sebab itu artinya, alih-alih mendapatkan keuntungan, Anda akan mendapatkan kerugian. 

3. Validator terkena penalti 

Jika validator tidak bisa menyelesaikan proses validasi dalam waktu yang ditentukan, dia akan terkena penalti. Penalti ini berbentuk pengurangan jumlah aset yang telah dijadikan jaminan (staked assets) oleh delegatornya. Akibatnya aset dari orang-orang yang bukan validator seperti Anda juga akan berkurang. 

Kesimpulan

Staking crypto mirip dengan deposito. Hanya saja mekanismenya, trader delegator seolah “patungan” untuk menggunakan trader lain sebagai validator untuk melakukan mining, memvalidasi transaksi dan lain sebagainya. Dengan demikian, trader retail bisa mendapatkan keuntungan dengan tanpa memiliki komputer yang sangat canggih.

Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan